Tulisan Terpopuler
Beranda arrow Kelautan arrow Pulau-Pulau Kecil Terluar, Siapa Peduli?
Thursday, 09 September 2010
 
 
Pulau-Pulau Kecil Terluar, Siapa Peduli? PDF Print E-mail
Written by Fakhruddin Mustofa - KPJ'96   
Monday, 05 March 2007

Isu perbatasan kian menghangat dalam beberapa pekan ini. Eksekutif, Legislatif, tak ketinggalan pula berbagai komponen Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) melontarkan komentar dan pemikiran kritis tentang problem perbatasan. Komentar tersebut kadangkala membangkitkan ‘emosi kebangsaan sesaat’. Bisa dimaklumi, karena perbatasan berhubungan erat dengan wilayah kedaulatan negara. Kasus perbatasan yang sempat terangkat luas ke publik antara lain reklamasi pantai Singapura, penutupan 4 pintu perbatasan darat di Belu, dan Blok Ambalat yang mulai mencuat. Contoh kasus, proyek reklamasi pantai Singapura yang berlangsung sejak Tahun 1960 dikawatirkan berdampak negatif terhadap lingkungan dan sumberdaya perikanan. Kekhawatiran dari sejumlah pihak akan terusiknya kedaulatan negara akibat reklamasi juga patut dicermati.

Persoalan semakin kompleks ketika pasir untuk keperluan reklamasi Singapura diambil dari wilayah perairan Kepulauan Riau. Beberapa pulau di kawasan ini dikhawatirkan tenggelam. Di sisi lain, luas daratan Singapura meningkat dalam kurun waktu tertentu. Tercatat pada tahun 1960 luas asli Singapura sebesar 580 km2. Bertambah menjadi 660 km2 sampai tahun 1999, bahkan peningkatan drastis terjadi pada tahun 2002 menjadi 680 km2. Diperkirakan luas Singapura di penghujung 2006 sampai 760 km2. Apakah dengan bertambahnya daratan Singapura berpengaruh pada masalah perbatasan? Bagaimana nasib pulau kecil di wilayah perbatasan di Kepulauan Riau terkait ekspor pasir? Siapa yang dapat menjamin keutuhan wilayah kedaulatan? Dibutuhkan kajian detil untuk menjawabnya.

Persoalan terkait yang lebih besar tanpa mengecilkan kasus diatas yakni tentang ‘nasib’ Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT). Mungkin sudah usang membicarakannya, tetapi tidak akan basi untuk mengungkapnya. Wawasan Nusantara hanya akan menjadi wacana kosong bila tidak mengenal nama dan dimana pulau-pulau tersebut berada. Terlalu banyak buih di mulut daripada optimalisasi rekaman kaset di otak. Begitulah kurang lebih ungkapannya. Tidak berlebihan bila PPKT menjadi garda terdepan dalam menjaga wilayah kedaulatan Indonesia. Posisinya sangat strategis untuk menarik garis Batas Laut Teritorial, Zona Tambahan, Batas Landas Kontinen, dan zona ekonomi Eksklusif. Indonesia sebagai negara kepulauan yang telah diakui oleh UNCLOS dan telah diratifikasi, berhak menentukan garis batasnya. Dari 183 Titik Dasar (TD) yang menjadi patokan untuk menarik garis pangkal, tercatat ada 92 TD berada di pulau-pulau kecil terluar. Hal ini berarti keberadaan PPKT sangat vital dalam kerangka kedaulatan negara. Dipertegas lagi oleh PP No. 38 Tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia. Di situ disebutkan bahwa ada 92 PPKT yang menjadi acuan menarik garis pangkal. Anggapan bahwa PPKT merupakan pulau liar tak terurus dan seonggok batu karang, tidak selamanya benar. Kurang lebih hanya sepertiga dari PPKT yang dihuni, selebihnya masih berupa hutan bervegetasi lebat sampai jarang. Selain itu beberapa PPKT memiliki potensi wisata, keanekaragaman terumbu karang, dan sumber daya perikanan.

Lepasnya dua PPKT yakni Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Walaupun menurut perjanjian Inggris dan Belanda, kedua pulau tersebut masuk wilayah Indonesia, tetapi Mahkamah Internasional lebih menitikberatkan pada bukti peranan Malaysia di Sipadan-Ligitan. Tiga aspek utama yang dijadikan alasan Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia yakni keberadaan secara terus menerus (continuous presence), penguasaan efektif (effective occupation), dan pelestarian ekologis (ecology preservation). Indonesia lemah dalam ketiga hal tersebut dibanding Malaysia.

Kekhawatiran terhadap keberadaan pulau kecil terluar tidak terbatas pada lepasnya pulau ke negara lain. Letaknya yang berhadapan langsung dengan 10 negara tetangga (Singapura, Malaysia, Thailand, India, Vietnam, Palau, Papua Nugini, Australia, Philipina, dan Timor Leste) berpotensi rawan terhadap pengaruh ideologi, ekonomi, politik, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan. Lingkungan alam juga dapat terancam karena sebagian besar pulau berhadapan langsung dengan lautan bebas, contohnya abrasi yang dapat menghilangkan titik dasar. Dari 92 PPKT yang tersebar di 20 Provinsi, terdapat 12 pulau yang menjadi perhatian khusus yakni Pulau Rondo, Sekatung, Nipa, Berhala, Marore, Miangas, Marampit, Batek, Dana, Fani, Fanildo, dan Pulau Bras.

Pulau Nipa yang berbatasan dengan Singapura terancam tenggelam akibat aktifitas penambangan pasir laut. Hal ini sangat berasalan. Luas Pulau Nipa ketika surut mencapai 60 Ha, saat pasang hanya 3.600 m2, cukup memprihatinkan! Diperparah dengan degradasi kualitas lingkungan dan berkurangnya sumberdaya perikanan. Letaknya yang berada dimulut Selat Malaka juga sangat rawan terhadap penyelundupan. Prasasti di Nipa yang berbunyi ‘Nipa pulau terluar, pertahankan sampai titik darah penghabisan’ menjadi saksi bisu betapa vitalnya pulau ini. Selanjutnya menengok Pulau Miangas di Sulawesi Utara, Konggres (DPR) Philipina masih mengklaim pulau ini menjadi bagian dari wilayahnya. Secara de yure Pulau Miangas menjadi milik Indonesia seutuhnya. Dibuktikan dengan pengakuan Mahkamah Arbitrase Internasional Jarak pulau ke Philipina yang hanya 48 mil menyebabkan warga Miangas lebih banyak ke Philipina dibanding ke Nanusa (Ibukota kecamatan) dalam hal aktifitas ekonomi, bahkan merambah ke ranah sosial budaya. Tak heran bila barang-barang kebutuhan pokok sampai barang rumah tangga didominasi produk Philipina. Ikatan emosional warga yang terjalin akibat hubungan personal secara kontinyu dengan Philipina tentu berpotensi terhadap degradasi ideologi. Untuk mencapai Miangas butuh waktu 20 hari sekali kapal dari Pelabuhan, terhitung sangat jarang untuk sebuah kegiatan perekonomian yang butuh waktu cepat. Penulis ingat betul ketika seorang guru besar dari Universitas Indonesia merasa prihatin ketika tidak menemui toponimi Miangas dari beberapa peta yang beliau lihat. Sungguh ironis. Miangas dan Nipa hanya segelintir contoh kecil dibanding kekomplekan masalah PPKT lainnya.

Siapa Peduli?

Patut disyukuri ketika keluar Perpres No. 78 Tahun 2005 tentang adanya upaya pengelolaan pulau-pulau kecil, termasuk pulau terluar. Terjalin sinergi antar berbagai departemen dan lembaga non departemen yang bahu membahu memperhatikan dan mengelola terutama PPKT. Tentu saja dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing sesuai dengan kapasitasnya. Beberapa program pembangunan harus dicanangkan dan berkelanjutan terhadap PPKT. Untuk PPKT yang berpenghuni dapat dilakukan pengembangan pariwisata, eksplorasi sumber daya perikanan, peningkatan aktifitas perdagangan, pembangunan infrastruktur, dan penguatan kelembagaan. Sedangkan untuk pulau yang tidak berpenghuni lebih diarahkan pada pengembangan konservasi dan taman nasional laut, laboratorium alam, wisata bahari, dan menjadikan pulau sebagai wilayah persinggahan.

Hal yang tidak boleh terlupakan adalah pembangunan basis data spasial mengenai PPKT. Basis data spasial contoh sederhana adalah pemberian nama pulau (toponimi). Inisiatif Dr Alex Retraubun dari Departemen Kelautan dan Perikanan untuk mendaftarkan nama pulau-pulau Indonesia termasuk pulau kecil ke PBB, patut diacungi jempol. Hal ini bila terwujud akan berdampak positif karena pengakuan dari pihak internasional semakin kuat. Selain itu pemetaan dengan menggunakan sumber data terbaru harus kontinyu dilakukan untuk mengamati kondisi riil di lapangan. Dalam hal ini citra satelit resolusi tinggi dapat dimanfaatkan. Koordinasi dan sharing data spasial dan non spasial memegang peranan penting.

Pertanyaan mendasar adalah seberapa besar perhatian dan kepedulian Warga Negara Indonesia terhadap keberadaan pulau kecil terluar?. Jawaban kuncinya ada tiga yakni ‘AMAT PEDULI, PEDULI, AH PEDULI AMAT!.' Untuk jawaban pertama dan kedua berarti sangat diharapkan, tetapi bila menjawab kalimat ketiga maka hanya rumput bergoyanglah yang siap menggeleng-gelengkan daunnya (meminjam istilah Oom Ebiet G. Ade). Semua kembali ke kesadaran kita masing-masing.

*) Penulis adalah Staf di Bakosurtanal, Bogor 

Komentar
Ditulis oleh: pada 2009-11-15 14:29:33
:cry :cry :cry  
aku sangat peduli... 
chayo Indonesia...pertahankan PPKT...
menyedihkan....
Ditulis oleh: pada 2009-07-27 09:21:24
:eek ya..jangan sampai pulau2 kecil kita dirampas lagi oleh pihak asing!!! 
diperlukan koordinasi semua pihak (stakeholder)agar meringankan pekerjaan pemerintah.. ;)
pentingnya toponimi
Ditulis oleh: pada 2009-06-18 08:51:57
:roll mari kita ikut memikirkan dan berpartisipasi aktif dalam memberikan informasi tentang toponimi sehingga negara memdapatkan informasi yang benar dan membantu keutuhan NKRI
amat peduli
Ditulis oleh: Yohanes Tikuali pada 2009-06-01 11:07:19
saya sangat bangga dengan indonesia...! saya juga sangat sedih dengan kondisi yang ada. dan saya pun sangat benci dengan puhak-pihak yang memiliki wewenang pada bagian ini, andaikata saya punya wewenang prinsip saya hanya satu "pembangunan dan perhatian lebih di semua perbatasan indonesia yang sudah diakui secara sah di mata internasional tidak peduli dengan tetangga". sayang sekali saya hanya masyarakat biasa yang hanya bisa berharap pada "P E M E R I N T A H".  
 
penegakan hukum yang pertama dan utama, serta harga diri. :? :(
Berontak
Ditulis oleh: pada 2009-01-27 13:57:31
Ayo kita Berontak kepada para oknum yg tak peduli akan Pulau-pulau Indonesia..! atau OKNUM yg pura-pura tdk tau bhwa Indonesia adalah negara laut!! Bukan Negara Tani..!!  
Jgn kita bgga dpt eksport beras..! tp berbanggalah, klo lauk kita adalah bersumberkan hasil laut..! 
:(  
 
Beragam cara: 
1. Mari budayakan lauk ikan sebagai menu favorit..! 
2. Budayakan Laut sebagai target wisata utama..! 
3. Buat pejabat.. Buatlah Lembaga-lembaga sekolah Kelautan sejak SD untuk para calon Pelaut..!! 
 
Dengan budaya, kita dapt menangkal hilangnya Pulau2 dan Laut Indonesia..!! 
 
Mr.X-S,
kecewa...
Ditulis oleh: pada 2008-08-01 12:11:07
putera-puteri Kepri 
segera kembali ke tanahmu 
kita majukan daerah sendiri bukan luar negeri atau daerah lain 
 
 
kasian ibu menangis....
sidak kasus ini
Ditulis oleh: pada 2008-05-18 19:18:05
:cry :sigh  
saya sebagai putri daerah Kep.Riau (p.Bintan )sangat ingin berontak tapi saya bukan pejabat atau sapapun saya hanya seorangwanita kecil yang tdk ingin daerahnya di ambil bgtu saja oleh negara tetangga......ini harus di tangani banyak otnum dari yg tdk bertanggung jawab......
aku
Ditulis oleh: pada 2008-05-12 17:47:45
:cry :cry aku sangat peduli
Ditulis oleh: gwe pada 2008-04-28 15:07:45
:cry
Kami Peduli
Ditulis oleh: pada 2008-04-12 22:23:12
Kami peduli

Tulis Komentar
  • Komentar harus berkaitan dengan isi tulisan.
  • Komentar yang mengarah ke masalah personal tidak akan ditampilkan.
  • Jangan lupa untuk me-refresh halaman ini untuk memunculkan kode rahasia, sebelum menekan tombol 'Kirim'.
Nama:
e-mail
Alamat Situs:
Judul:
Kode BB:Alamat Situse-mailTeks TebalTeks MiringTeks BergarisbawahKutipanKode RahasiaBuka DaftarDaftar ItemTutup Daftar
Komentar:



Kode Rahasia:* Kode Rahasia:

 
Top!
Top!