Tulisan Terpopuler
Beranda arrow Jender arrow Kearifan Perempuan Suku Dani dalam Mengatasi Bencana Kekeringan
Thursday, 09 September 2010
 
 
Kearifan Perempuan Suku Dani dalam Mengatasi Bencana Kekeringan PDF Print E-mail
Written by Juniawan Priyono - KPJ'94   
Tuesday, 01 July 2008

Selagi kita melihat perempuan sesungguhnya mengalami penderitaan akibat bencana alam, namun itu semua hanyalah separuh gambaran. Bencana alam juga memberikan kesempatan unik kepada perempuan untuk menghadapi tantangan dan mengubah status jender mereka di dalam masyarakat. Perempuan sudah membuktikan bahwa keberadaan dirinya sangat dibutuhkan, ketika tiba saatnya untuk memberikan tanggapan terhadap peristiwa kebencanaan.

Tersebutlah ”Liwa”, seorang perempuan suku Dani yang menjalani segala bentuk penderitaan sejak masih kanak-kanak. Kematian ibunya yang bernama Aburah merupakan awal kemalangan bagi dirinya. Kugara (ayahnya) menikah dengan Lapina. Beruntung ibu tirinya menyayangi Liwa seperti anak kandungnya sendiri. Namun itu semua tidak berlangsung lama, tepatnya semenjak ayahnya meninggal dalam sebuah perang suku. Liwa mulai merasakan kekejaman adat, dimana sebagai tanda berduka cita ia harus merelakan ruas jarinya dipotong ketua adat. Adat yang sadis, diskriminatif, dan secara nalar tidak dapat diterima namun juga tidak bisa ditolak. Kebahagiaan sempat dirasakan saat menikah dengan Ibarak, tetapi itupun juga tidak berlangsung lama. Sebagaimana lelaki suku Dani lainnya, Ibarak hanya makan, tidur, dan merokok. Liwa harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Liwa harus bekerja di kebun dan memberi makan babi-babi peliharaan mereka, meskipun kondisi tubuhnya lemah karena mengandung atau sehabis melahirkan. Pada suatu malam, terjadi kebakaran di honai ” pilamo” tempat tinggal kaum lelaki. Seluruh anak lelaki Liwa meninggal sebagai korban. Liwa merasa sedih dan memutuskan untuk pergi karena tidak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Ada sebuah sungai yang amat dalam di daerah Fugima, dimana perempuan yang sudah tidak mampu menanggung beban hidup akan datang ke tempat itu, meninggalkan  sali (pakaian perempuan suku Dani yang menutupi tubuh bagian bawah) di bebatuan, memberati tubuhnya dengan batu, kemudian menceburkan diri ke dalam sungai. Ke sanalah Liwa pergi. (Diceritakan kembali dari Novel Etnografi berjudul ”Sali, Kisah Seorang Wanita Suku Dani” karya Dewi Linggasari.)

Pegunungan Jayawijaya adalah “rumah” bagi Suku Dani. Mereka hidup dari berburu dan meramu hasil hutan dan sungai yang terdapat di sekitar kampung. Suku Dani juga membuka hutan menjadi ladang-ladang pertanian. Pembukaan hutan menjadi ladang dan penjagaan keamanannya adalah tugas kaum laki-laki suku Dani, sedangkan penanaman dan pemeliharaan tanaman yang lebih memerlukan kepekaan perasaan terhadap alam menjadi tugas kaum perempuan. Pembagian tugas ini tercermin pula dalam permukiman mereka. Kaum lelaki bertugas membuka kampung, membangun rumah, dan menjaga ketenteramannya. Kaum perempuan bertugas memelihara hunian seisinya, termasuk menumbuh-kembangkankan generasi penerus. Itulah konsep kesepasangan dalam budaya suku Dani. Sungguh memang tidak mudah menjadi perempuan suku Dani. Kisah tragis Liwa tidaklah berarti kaum perempuan suku Dani gampang menyerah karena mereka dikenal kuat dalam bekerja. Mereka juga memiliki kearifan lokal dalam mengatasi bencana, khususnya bencana kekeringan.

Sosio-kultural Suku Dani

Pada jalur pegunungan tengah Papua tinggal lima suku pedalaman, yaitu: Damal, Dani, Moni, Nduga, dan Mee. Suku-suku ini memiliki karakter, kepemimpinan, dan budaya yang hampir sama termasuk dialek bahasa. Perkampungan suku Dani pertama kali ditemukan di lembah Baliem ratusan tahun yang lalu. Seorang peneliti dari Amerika, Richard Archold, sekitar tahun 1935 mengadakan kontak dengan suku Dani untuk yang pertama kalinya. Sebutan “Dani” sebenarnya diberikan untuk orang Moni (Moni berarti orang asing) yang bermukim di dataran tinggi Paniai. Kata moni ini selanjutnya berubah menjadi ndani untuk mereka yang tinggal di Baliem. Penduduk lembah Baliem sendiri menyebut diri mereka nut akuni pallimeke, yang berarti kami dari Baliem. Suku Dani merupakan petani yang terampil dan telah menggunakan kapak batu, alat pengikis, pisau yang terbuat dari tulang binatang, bambu, tombak kayu, dan tongkat untuk menggali.

Suku Dani tinggal dalam kelompok-kelompok yang masih memiliki hubungan kekerabatan dalam sebuah usilimo atau sili. Beberapa sili yang berdekatan biasanya memiliki kedekatan hubungan kekerabatan. Kelompok sili yang dibentuk oleh adanya hubungan darah dan atau atas dasar persatuan teritorial dan politik berkembang menjadi kampung. Sebuah kampung dipimpin oleh seorang kepala suku dengan didampingi seorang panglima perang. Kedudukan panglima perang dalam struktur kehidupan masyarakat Dani yang sangat penting menunjukkan tingginya tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai gangguan terhadap ketenteraman lingkungannya. Hal ini disebabkan karena mereka tinggal di daerah hutan dengan tingkat kerawanan yang tinggi. Gangguan tersebut bisa datang dari binatang buas, bencana alam, dan atau suku-suku lain.

Sebagian besar masyarakat suku Dani memeluk agama Kristen. Meskipun demikian, banyak diantara upacara-upacara adat masih bercorak budaya lama yang diturunkan oleh nenek moyang mereka, terutama masyarakat yang berada di tempat terpencil di daerah pegunungan. Suku Dani percaya terhadap rekwasi. Kebanyakan upacara keagamaan diiringi dengan nyanyian, tarian, dan persembahan terhadap nenek moyang.

Bencana Kekeringan

Pada bulan Desember 1986, bencana kelaparan melanda Kecamatan Kurima, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Bencana yang terjadi akibat kemiskinan dan tragedi kemarau panjang ini menyebabkan sedikitnya 169 korban tewas. Masyarakat terlalu menikmati buah pandan (kelapa hutan) yang menjadi makanan sampingan, sehingga tidak sempat menanam umbi untuk makanan pokok. Padahal tanpa menanam umbi-umbian mereka tidak bisa makan. Selain itu, kemarau panjang membuat lahan perkebunan di wilayah tersebut gagal panen. Kondisi itu masih diperparah lagi dengan turunya hujan deras yang mengakibatkan bencana longsor di beberapa kawasan perkebunan/ladang.

Belum lekang pula dari ingatan kejadian di tahun 1997. Keganasan alam menimpa penduduk Jayawijaya, dimana sebagian besar penduduknya yang tinggal di lereng-lereng pegunungan yang sulit dijangkau itu dilanda kekeringan panjang yang belum pernah dialami sebelumnya. Kemudian menyusul bencana kebakaran hutan yang semakin menambah penderitaan. Umbi-umbian penopang hidup sehari-hari mati dan tidak dapat tumbuh lagi. Sementara itu, tidak tersedia sumber pangan alternatif lainnya.

Kekeringan merupakan salah satu bencana alam yang dampak kerugiannya berlangsung pelan namun pasti, dan biasanya kerusakan yang ditimbulkan bukanlah kerusakan fisik. Pada dasarnya, kekeringan merupakan kondisi kekurangan air untuk mencukupi kebutuhan pokok. Kekeringan biasanya terjadi akibat kondisi cuaca yang menyimpang dari kondisi normal, yang terjadi di suatu wilayah tertentu. Penyimpangan tersebut dapat berupa kurangnya curah hujan dibandingkan pada kondisi normal. Berdasarkan penyebabnya, kekeringan di Jayawijaya dibagi menjadi: kekeringan meteorologis, hidrologis, pertanian, dan kekeringan sosial ekonomi.

Kekeringan meteorologis merupakan kekeringan yang semata-mata diakibatkan oleh watak iklim wilayah. Pada saat-saat tertentu, suatu wilayah mengalami kekurangan air karena curah hujan lebih kecil daripada nilai penguapan air. Wilayah tersebut biasanya selalu kekurangan air pada musim kemarau, sehingga masyarakat sudah terbiasa dan mampu menyesuaikan aktivitasnya dengan iklim setempat. Meskipun demikian, penyimpangan musim masih dapat terjadi. Musim kemarau berlangsung lebih panjang daripada biasanya, sehingga terjadilah bencana kekeringan. 

Kekeringan hidrologis merupakan  gejala menurunnya cadangan air (debit) sungai, waduk, dan danau; serta menurunnya permukaan air tanah sebagai dampak kejadian kekeringan. Kekeringan jenis ini biasanya disebabkan oleh kekeringan meteorologis, khususnya di wilayah yang kawasan hutannya sempit dan atau mengalami kerusakan. Oleh karena itu, keberadaan dan kelestarian hutan perlu dipertahankan agar dapat menyimpan air yang cukup.

Kekeringan pertanian merupakan kekeringan yang berdampak pada pertumbuhan tanaman. Kekeringan muncul  karena kadar lengas tanah berada di bawah titik layu permanen atau istilahnya  tanaman telah mengalami cekaman air. Dampak dari ketiga jenis kekeringan tersebut adalah terjadinya kekeringan sosial ekonomi, yaitu saat pasokan dan permintaan barang dan jasa terganggu, juga menurunnya cadangan pangan yang menimbulkan kelaparan dan bahkan kematian.

Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) berjudul “Climate Change Impacts, Adaptation and Vulnerability” yang dikeluarkan pada April 2007 menunjukkan adanya dampak perubahan iklim yang sudah dan yang mungkin terjadi di masa depan. Laporan tersebut dibuat menggunakan data yang jauh lebih banyak dibandingkan laporan serupa pada tahun 2001. Disimpulkan adanya “high confidence” yang berarti 80 persen kemungkinan untuk menyatakan bahwa perubahan suhu yang terjadi akhir-akhir ini telah berdampak kepada banyak sistem fisik dan biologis alam. Khusus untuk wilayah Indonesia, laporan IPCC mengindikasikan bahwa hanya satu lokasi yang mengalami perubahan fisik alam, yaitu Papua. Berdasarkan data tahun 1970 - 2004, kenaikan rerata suhu tahunan di Indonesia mencapai 0,2 - 1 derajat Celcius. Dampaknya adalah menurunnya produksi pangan, yang berakibat lebih jauh meningkatkan risiko bencana kelaparan. Selain itu juga mengakibatkan peningkatan kasus gizi buruk dan diare, serta perubahan pola distribusi hewan dan serangga sebagai vektor penyakit. Pihak yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim adalah masyarakat miskin karena kemampuan beradaptasi mereka yang rendah sebagai akibat minimnya sumberdaya yang dimiliki. Selain itu, kehidupan mereka cenderung sangat bergantung kepada sumberdaya yang rentan terhadap kondisi iklim.

Perubahan iklim ternyata memiliki karakteristik jender. Pertama, perempuan mengalami dampak berbeda dan lebih buruk akibat perubahan iklim akibat peran sosial, diskriminasi, dan kemiskinan. Kedua, perempuan tidak diwakili kepentingannya dalam pengambilan keputusan terkait dengan perubahan iklim, emisi gas rumah kaca, adaptasi, dan upaya mitigasi. Perempuan harus diikutsertakan bukan hanya karena memiliki perspektif dan keahlian berbeda yang dapat disumbangkan.

Pengurangan Risiko Bencana (PRB)

Berdasarkan hasil Konferensi Sedunia tentang Pengurangan Resiko Bencana (World Conference on Disaster Reduction) yang diselenggarakan pada tanggal 18-22 Januari 2005 di Kobe, Hyogo, Jepang; dan dalam rangka mengadopsi Kerangka Kerja Aksi 2005-2015 dengan tema ‘Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas Terhadap Bencana’ memberikan kesempatan untuk menggalakkan suatu pendekatan yang strategis dan sistematis dalam meredam kerentanan dan risiko terhadap bahaya. Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifikasi cara-cara untuk membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana. Bencana dapat diredam secara berarti jika masyarakat mempunyai informasi yang cukup dan didorong pada budaya pencegahan dan ketahanan terhadap bencana, yang pada akhirnya memerlukan pencarian, pengumpulan, dan penyebaran pengetahuan dan informasi yang relevan tentang bahaya, kerentanan, dan kapasitas.

Berkaitan dengan jender diperlukan usaha-usaha, antara lain: memastikan kesetaran akses kesempatan memperoleh pelatihan dan pendidikan bagi perempuan dan konstituen yang rentan dan menggalakkan pelatihan tentang sensitivitas jender dan budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan dan pelatihan tentang pengurangan risiko bencana. Suatu perspektif gender harus diintegrasikan ke dalam seluruh kebijakan, perencanaan dan proses-proses pengambilan keputusan tentang pengelolaan risiko bencana, termasuk yang terkait dengan penjajagan risiko, peringatan dini, pengelolaan informasi, pendidikan, dan pelatihan.

Pengarusutamaan Jender dalam PRB

Mengapa perempuan lebih rentan terhadap bencana? Elaine Enarson (2000) dalam tulisannya yang bejudul ”Gender and Natural Disasters” menyatakan: “… jender membentuk dunia sosial di dalamnya, dimana berbagai peristiwa alam terjadi.” Perempuan ‘dibuat’ menjadi lebih rentan terhadap bencana melalui peran sosial yang dibangun masyarakat. Perempuan memiliki lebih sedikit akses ke sumberdaya, misalnya: jaringan sosial dan pengaruh, transportasi, informasi, keterampilan (termasuk didalamnya melek huruf), kontrol sumberdaya alam dan ekonomi, mobilitas individu, jaminan tempat tinggal dan pekerjaan, bebas dari kekerasan, dan memegang kendali atas pengambilan keputusan. Padahal itu semua penting dalam siklus penanggulangan bencana. Perempuan juga menjadi korban pengelompokan jender terkait pekerjaan. Mereka terwakili dalam industri pertanian, wirausaha, dan sektor ekonomi informal; dengan upah kerja dibawah UMR, keamanan kerja yang terbatas, tidak mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan dan organisasi untuk menyuarakan aspirasinya. Sektor pertanian dan informal pada umumnya yang paling terkena dampak peristiwa bencana alam. Oleh karena itu, perempuan lebih dari mewakili satu di antara penduduk yang tidak memiliki pekerjaan setelah terjadi bencana.

Pengalaman di negara-negara lain membuktikan adanya hubungan positif yang kuat antara perhatian jender dan partisipasi kaum perempuan terhadap tingkat keberhasilan proyek dan kesinambungan pengelolaan air bersih untuk mengatasi bencana kekeringan. Kaum perempuan merupakan kolektor, pengangkut, pengguna, dan pengelola utama air untuk keperluan rumah tangga. Kaum perempuan juga menjadi promotor dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan sanitasi di lingkungan rumah tangga dan masyarakat. Sangat disayangkan jika pandangan kaum perempuan tidak terwakili secara sistematis dalam lembaga pembuat keputusan. Proyek penyediaan air dan sanitasi seharusnya bisa memberikan kesempatan yang luas untuk mempersempit kesenjangan ini.

Fokus pada jender akan memberi manfaat yang lebih besar dari sekedar kemampuan program penyediaan air dan sanitasi yang baik, yang tercermin dalam beberapa aspek, yaitu: proses penyediaan yang lebih baik, pengoperasian dan pemeliharaan yang lebih baik, pengembalian biaya, dan kesadaran terhadap higiene. Adapaun manfaatnya adalah sebagai berikut. Pertama, manfaat ekonomi dimana akses yang lebih baik pada sumber air akan memberikan waktu yang lebih banyak untuk melakukan aktivitas mendatangkan pendapatan, memenuhi kebutuhan anggota keluarga, serta memberikan kesejahteraan dan waktu luang untuk kesenangan kaum perempuan. Kedua, manfaat kepada anak-anak dimana mereka tidak terikat pada pekerjaan mengumpulkan air yang menghabiskan waktu. Hal ini akan membuat anak-anak perempuan dapat mengikuti kegiatan sekolah kembali. Dampaknya akan terlihat antar-generasi. Ketiga, pemberdayaan terhadap kaum perempuan dimana keterlibatan dalam program penyediaan air dan sanitasi akan memberdayakan kaum perempuan. Terlebih lagi jika kegiatan tersebut dihubungkan dengan program yang berhubungan dengan peningkatan pendapatan dan sumberdaya produktif seperti pengembangan usaha kecil dan menengah.

Petik Pelajaran dari Koragi dan Popugoba 

Kampung Koragi dan Popugoba adalah dua diantara sekian banyak kampung yang pernah mengalami kekeringan dan kebakaran hutan di Kabupaten Jayawijaya. Kedua kampung ini secara geogafis terletak di daerah pegunungan. Kondisi tanah dan batuan umumnya terdiri dari batu kapur/gamping dan granit, sedangkan di sekeliling lembah merupakan campuran antara endapan lumpur, tanah liat, dan lempung. Kampung Koragi berada dalam wilayah Kecamatan Yalengga, sedangkan Kampung Popugoba berada di wilayah Kecamatan Asolokobal.

Pada musim kering tahun 1997-1998, Kampung koragi mengalami kegagalan panen, padang rumput terbakar, mata air mengecil dan banyak diantaranya yang berhenti mengalir. Warga yang kelaparan terpaksa menjual babi untuk membeli makanan. Beberapa keluarga harus mengungsi untuk menghindari kebakaran lahan di sekitar tempat tinggalnya. Kekeringan di Popugoba menyebabkan kurang lebih 20 orang meninggal karena kelaparan. Binatang peliharaan, seperti: babi, ayam, dan anjing mati karena tidak ada makanan. Kaum perempuan harus mengambil air minum dari Sungai Baliem yang berjarak 10 km menuruni gunung dengan berjalan kaki selama 3 - 4 jam.

Tanaman pertanian di Kampung Koragi dan Popugoba antara lain: ubi jalar, keladi, jagung, kedelai, wortel, cabai, mentimun, kol, sawi, buncis, kacang tanah, kacang panjang, tebu, jahe, dan bayam. Tanaman ubi jalar ditanam bersama tanaman pertanian lainnya dengan sistem tumpang sari di pematang atau bedeng. Sementara itu, tanaman perkebunan yang ditanam adalah kopi, mangga, pepaya, alpukat, markisa, dan jeruk. Tidak semua hasil tanaman pertanian dan perkebunan dikonsumsi oleh keluarga. Ubi jalar, keladi, dan sayur-sayuran adalah jenis tanaman yang dikonsumsi keluarga sehari-hari. Sebagian hasil kebun buah dipisahkan untuk dikonsumsi sendiri maupun disimpan sebagai persediaan di musim kering, sedangkan lainnya dijual atau ditukar dengan kebutuhan rumah tangga. Sebagai hasil upaya tanggap bencana yang mereka lakukan, perempuan suku Dani juga sedang dalam proses mengembangkan keterampilan baru, yaitu mengelola sumberdaya alam dan pertanian dalam lingkungan yang sesuai.

Apabila ladang sudah siap ditanami, maka kaum perempuanlah yang menanam bibit tanaman, seperti:  hipere (ubi) dan talas. Selanjutnya perempuan pula yang memelihara tanaman di ladang hingga dapat dipetik hasilnya. Saat ini, sayur mayur mulai banyak ditanam di ladang. Hasilnya sebagian dijual ke pasar. Pada awalnya, kegiatan ini tidak berorientasi pada keuntungan ekonomis, melainkan untuk kepentingan sosialisasi saja. Biasanya hasil ladang ditukar dengan babi. Suku Dani adalah masyarakat subsisten yang menggantungkan kehidupannya pada kekayaan yang diberikan alam sekitarnya. Kegiatan jual-beli hasil ladang merupakan kegiatan baru bagi masyarakat Dani.

Tidak ada hasil sungai yang diambil untuk dijual. Jika mendapat ikan atau udang dari sungai kecil di dekat kampung hanya untuk dikonsumsi sendiri. Hasil hutan di sekitar kampung yang biasa diambil untuk dijual adalah daun paku, kayu bakar, kelapa hutan, dan madu. Semua orang memiliki akses yang sama ke hutan. Orang yang paling sering ke hutan dan ke sungai adalah laki-laki, sedangkan perempuan bekerja di lahan pertanian (kebun ubi). Kedua kampung juga memiliki peraturan adat yang dimaksudkan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Masyarakat Kampung Koragi dan kampung Popugoba belum ada koperasi atau bank. Bila ada kebutuhan, penduduk kampung biasanya meminjam uang dari gereja setempat. Seluruh keluarga memiliki akses yang sama untuk meminjam uang di gereja. Uang pinjaman biasanya dikenakan bunga dan memiliki batas waktu pengembalian. Selain gereja, pihak lain yang berperan dalam memberikan pinjaman uang adalah teman dan sanak famili. Uang pinjaman dari teman dan atau sanak famili ini biasanya tidak dikenakan bunga dan batas waktu pengembalian berdasarkan kesepakatan. Sebagian besar penduduk kampung belum mengenal kebiasaan menabung di bank. Hanya beberapa keluarga saja yang sudah memiliki tabungan di bank. Hampir semua penduduk kampung lebih sering menyimpan kelebihan uangnya untuk membeli anak babi atau ayam agar bisa dipelihara dan dijual kembali.

Berbagai cara dilakukan warga kampung untuk mencegah dan mengatasi kekurangan makanan akibat bencana kekeringan, yaitu: (i) menghalangi meluasnya api ke pemukiman dan kebun dengan membuat parit pembatas; (ii) mencari sisa ubi di kebun yang belum mengering untuk dimakan karena biasanya ubi yang ditanam diantara bebatuan yang agak lembab belum mengering; (iii) memakan pisang sebagai pengganti ubi jalar dan keladi; (iv) meminta makanan dari sanak famili di kampung lain yang tidak terkena bencana; (v) menjual ternak untuk membeli makanan di pasar; (vi) menukar ternak dengan makanan dari kampung tetangga.

Bencana kekeringan dan kebakaran hutan/lahan mempengaruhi pendapatan keluarga. Beberapa cara yang dilakukan penduduk kampung, yaitu: (i) hanya mengambil kayu, madu, dan daun paku (untuk sayur) di area yang tidak kering untuk kemudian dijual; (ii) menjual ternak sebelum mati kekurangan makanan karena tidak mampu lagi memberi makanan; (iii) melapor ke kepala kampung mengenai bencana yang terjadi.  Ada beberapa cara yang dilakukan oleh kaum perempuan di Desa Popugoba dan Koragi untuk mengurangi pengeluaran. Pertama, mengurangi bahkan menghentikan pembelian gula, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, penyedap rasa, teh, dan kopi; kecuali garam dan minyak tanah. Kedua, mengurangi besarnya sumbangan keluarga (biasanya berupa uang atau barang) untuk acara budaya dan acara keagamaan di kampung. Ketiga, mengurangi besarnya sumbangan untuk sanak saudara yang meminta sumbangan. Keempat, mengurangi pengeluaran untuk rokok dan sirih pinang.

Ketiadaan akses jalan–yang ada hanyalah jalan setapak–membuat hubungan perekonomian dari kampung dan sebaliknya tidak lancar. Penduduk kampung kesulitan membawa hasil tanaman atau ternak yang akan dijual ke pasar dalam jumlah banyak. Demikian juga sebaliknya, ketika membawa barang-barang dari kota ke kampung. Hasil panen yang mudah rusak dan tidak bisa dijual ke pasar dengan segera sangatlah mengurangi pendapatan keluarga. Pasar yang terdekat dengan kampung Popugoba adalah Pasar Misi, yang harus ditempuh dengan berjalan kaki menuruni gunung selama 1,5 jam hingga tiba di kampung Maima. Kemudian berjalan kaki lagi sekitar 15 menit untuk sampai di jalan raya, dimana angkutan umum (mobil) menuju ke kota Wamena melintas.

Beberapa hal penting juga penulis temukan ketika mempelajari pengetahuan dan budaya perempuan suku Dani mengenali kejadian alam. Orang Dani menentukan datangnya musim panas dan musim hujan dengan melihat posisi matahari pada waktu terbit. Apabila matahari terbit diufuk timur dan posisinya condong ke utara maka itu memberi tanda musim kering/panas mulai tiba. Apabila posisi matahari pada waktu terbit apabila condong ke selatan maka itu pertanda musim basah/hujan. Mereka tidak mengenal sistem perhitungan ataupun angka-angka untuk menentukan posisi lintang dan bujur. Jika di pagi hingga matahari naik sepenggalah nampak awan tipis di Puncak Trikora, maka pertanda musim kering tiba. Pada musim kemarau memang jarang sekali terdapat awan rendah, seperti: Stratus, Stratocumulus, maupun Nimbostratus. Pembelajaran bagi kami bahwa dimanapun mereka tinggal, mampu beradaptasi dengan lingkungan alam. Keselarasan dan keseimbangan dengan alam benar-benar dipahami dengan baik.

Bagi orang Papua, noken merupakan simbol perdamaian dan juga kesuburan bagi masyarakat di tanah Papua. Nama sejenis kantong ini boleh berbeda sesuai dengan suku masing-masing tapi penggunaan dan manfaatnya pasti sama, yaitu untuk menampung atau menyimpan hasil bumi, seperti: petatas, ubi, dan keladi. Bahkan ada beberapa suku di Papua yang menggunakan noken untuk menggendong bayi mereka dan juga anak-anak babi. Orang Dani mengenalnya dengan nama “su”. Noken memiliki konsep biologi (serat yang diambil dari pohon dan daun tikar), geografi (kekayaan alam yang bisa dijadikan apa saja), teknologi (berupaya membuat wadah untuk mengangkut), etnografi (fokus pada suatu benda atau kegiatan budaya), hingga filosofi (harus ditransfer kepada anak-anak muda supaya mempertahankan budaya nenek moyang) yang terkait satu sama lainnya. Diperlukan keterampilan khusus untuk membuat noken dan hanya diperbolehkan bagi kaum perempuan. Noken merupakan simbol penting bagi kesuburan pertanian. Jika dilihat sepintas, ukurannya memang kecil namun dapat menyimpan berbagai macam barang, termasuk anak babi. Noken juga merupakan sumber kesuburan kandungan seorang perempuan. Jika memiliki noken yang bagus, sudah tentu akan melahirkan anak-anak yang sehat. Seorang perempuan yang tidak tahu membuat noken dianggap belum dewasa, mandiri, mampu bekerja, dan layak untuk menikah.

Penutup

Perempuan suku Dani memiliki kearifan lokal untuk mengatasi bencana kekeringan dengan praktek-praktek terbaik, yaitu: (i) mengelola ekosistem secara berkelanjutan melalui perencanaan penggunaan lahan yang lebih baik; (ii) mengembangkan ketahanan pangan untuk memastikan ketahanan keluarga dan komunitas terhadap bencana kekeringan; dan (iii) memiliki sistem peringatan dini yang berbasis masyarakat, terutama sistem-sistem yang mudah dipahami dengan masa tanam.

Komentar

Tulis Komentar
  • Komentar harus berkaitan dengan isi tulisan.
  • Komentar yang mengarah ke masalah personal tidak akan ditampilkan.
  • Jangan lupa untuk me-refresh halaman ini untuk memunculkan kode rahasia, sebelum menekan tombol 'Kirim'.
Nama:
e-mail
Alamat Situs:
Judul:
Kode BB:Alamat Situse-mailTeks TebalTeks MiringTeks BergarisbawahKutipanKode RahasiaBuka DaftarDaftar ItemTutup Daftar
Komentar:



Kode Rahasia:* Kode Rahasia:

Last Updated ( Wednesday, 16 June 2010 )
 
Top!
Top!